Beasiswa IBFL Dukung Mahasiswa ULM Ubah Potensi Jadi Prestasi
Banjarmasin – Komitmen Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) dalam mendukung pendidikan dan pengembangan pemuda di Kalimantan Selatan kembali membuahkan hasil. Melalui program Beasiswa Indonesia Bright Future Leaders (IBFL), sejumlah mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional.
Dalam program bincang B-Talk yang digelar Banjarmasin Post, dua mahasiswa ULM penerima IBFL dihadirkan untuk berbagi kisah inspiratif mereka. Naswa Rihadatul Aisy, penerima IBFL batch 4, berhasil meraih medali emas Olimpiade Ekonomi tingkat nasional. Sementara itu, Firdaus, penerima IBFL batch 3, menyabet juara 1 dan predikat Best Presentation dalam lomba esai nasional.
Kisah keberhasilan penerima IBFL ini mendapat dukungan dari para alumni, termasuk Ahmad Ridani, yang kini menjadi bagian dari tim pengelola beasiswa di YABN. Ia mengaku bangga dapat menyaksikan prestasi mahasiswa penerima beasiswa saat ini.
“Rasanya bangga melihat adik-adik penerima IBFL sekarang mampu melampaui ekspektasi kami dulu. Saya sendiri masuk ke YABN melalui proses rekrutmen yang panjang, sama seperti pelamar lainnya. Ini menunjukkan persaingan yang adil. Saya senang bisa kembali berkontribusi bagi teman-teman di Kalimantan Selatan melalui program beasiswa ini,” ungkap Ridani.
Ridani menekankan bahwa semangat untuk terus berkembang adalah kunci penting bagi calon penerima IBFL.
“Kami memprioritaskan mahasiswa dari keluarga prasejahtera atau menengah ke bawah dengan nilai akademik yang baik. Prestasi menjadi nilai tambah,” jelasnya.
Salah satu cerita menarik datang dari Naswa Rihadatul Aisy, yang mengaku tidak menyangka dapat lolos seleksi beasiswa.
“Awalnya nama saya tidak ada dalam daftar wawancara. Namun, tiba-tiba dihubungi dan masuk ke grup calon penerima. Saya gugup karena beasiswa ini sangat bergengsi, tapi saya mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam waktu singkat. Setelah melalui tahapan wawancara, psikotes, dan tes lainnya, saya akhirnya diterima,” kata Naswa.
Mahasiswi peraih emas Olimpiade Ekonomi ini menegaskan pentingnya manajemen waktu.
“Kunci utama adalah menentukan prioritas. Kuliah tetap saya jadikan fokus utama, kemudian membagi waktu untuk organisasi dan lomba. Saya belajar lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak pernah mencoba,” ujarnya.
Kisah serupa datang dari Firdaus, yang sempat mengalami masa gap year sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa IBFL.
“Setelah lulus SMK, saya sempat gagal mendapatkan KIPK. Orang tua bahkan menyarankan agar saya berhenti mengejar kuliah. Namun, saya tetap mencoba mendaftar beasiswa Adaro dan lolos setelah melalui tes wawancara dan psikotes. Dari 100 peserta, saya terpilih sebagai salah satu dari 66 penerima beasiswa batch 3,” kenang Firdaus.
Kini, Firdaus aktif berorganisasi sekaligus menjalankan bisnis sambil kuliah.
“Awalnya sulit membagi waktu, tetapi setelah mengikuti pelatihan Seven Habit, saya belajar hidup lebih terstruktur dengan membuat jadwal harian hingga tahunan. Kegiatan yang padat justru mendorong saya menjadi lebih disiplin,” tambahnya.
Pencapaian mahasiswa ULM melalui program IBFL ini menjadi bukti nyata bahwa dukungan beasiswa dan semangat juang dapat membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk berkembang, berprestasi, dan memberi dampak bagi masyarakat.

