Dobrak Budaya Diam
Secara sosiologis, kekerasan seksual terhadap anak tidak berdiri sendiri. Hal itu adalah produk dari struktur sosial yang bermasalah. Ada beberapa faktor sosial utama di balik maraknya kasus ini.
Anak-anak adalah kelompok rentan, dan pelaku biasanya adalah orang dewasa yang punya kuasa (orangtua, keluarga dekat, guru, atau tetangga). Struktur sosial yang patriarki dan hirarkis memberi peluang pada relasi kuasa yang timpang ini.
Semisal kekerasan dari orangtua ke anak, lalu anak elakukan kekerasan di sekolah terhadap adik kelas yang “strata”nya dianggap lebih rendah.
Dalam beberapa konteks keluarga atau komunitas, kekerasan (verbal. Fisik. Seksual) tidak selalu dianggap sebagai hal yang salah. Ada yang menutup mata demi menjaga “nama baik” keluarga, dan ini memperkuat budaya diam. Bisa kita lihat sekarang, banyak kasus orangtua “membela” anak tapi juga dengan melakukan kekerasan.
Banyak orangtua dan anak-anak tidak mendapat edukasi yang cukup tentang tubuh, batasan, dan konsen (consent). Akibatnya, anak-anak tidak tahu apa itu pelecehan dan tidak tahu harus mengadu ke siapa.
Lingkungan sosial yang tidak suportif (lingkungan RT yang individualistik, minim ruang bermain anak, dan renggangnya ikatan sosial) menyebabkan anak-anak lebih banyak di rumah atau ruang digital tanpa kontrol. Banyak kasus yang dipengaruhi oleh pornografi, media sosial, atau grooming online.
Saat ini ada indikasi disfungsi keluarga dan lemahnya pendidikan karakter sangat terlihat. Hal ini ditandai dengan keluarga yang tidak aman secara emosional. Banyak anak tidak mendapat ruang aman untuk bercerita.
Komunikasi dalam keluarga lebih banyak otoriter daripada dialogis. Bahkan kasus terakhir ada grup FB yang menjadikan anak sebagai fantasi orangtua. Ke mana mereka mengadu? Bahkan jika mengadu, orangtua menyuruh untuk diam saja.
Banyak keluarga tidak siap secara emosional maupun pengetahuan dalam mengasuh anak. Pengasuhan cenderung bersifat instan, keras, atau lepas kontrol.
Sebagai masyarakay, kita harus berani membangun ruang aman bagi anak-anak, dan mendobrak budaya diam yang selama ini menjadi perisai pelaku. Sebagai orangtua, kita juga perlu berbenah. Menghentikan kebiasaan atau trauma pengasuhan masa lalu, agar tidak lagi terjadi kekerasan. Besar harapan kita semua, anak-anak kita tumbuh lebih bahagia.
Oleh: Siti Zulaikha
Sosiolog Universitas Lambung Mangkurat
Dimuat di Banjarmasin Post, 10 Juli 2025

