MoU ULM – PT Freeport: Dorong Laboratorium Mangrove Dengan Prinsip People, Planet, Prosperity, Peace, dan Partnership
BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama PT Freeport Indonesia secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada Jumat, 28 Februari 2025. Kerja sama ini mencakup bidang restorasi mangrove, pengelolaan lahan basah, serta penguatan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Nota kesepahaman tersebut bertujuan untuk mendukung pelestarian ekosistem mangrove di Kalimantan Selatan dan memperkuat posisi ULM sebagai pusat riset lingkungan lahan basah terdepan di Indonesia.
Rektor ULM, Prof. Dr. H. Ahmad Alim Bachri, SE., M.Si menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam mewujudkan visi ULM sebagai perguruan tinggi unggul di bidang lingkungan lahan basah. “ULM mengelola lahan mangrove seluas 611 hektare di Kabupaten Kotabaru yang memerlukan rehabilitasi. Dukungan multistakeholder, termasuk PT Freeport Indonesia, sangat vital untuk pengembangan dan pelestarian kawasan ini,” ungkapnya.
Beliau menambahkan bahwa kawasan mangrove tersebut diharapkan dapat mengukuhkan ULM sebagai pusat penelitian mangrove tropis berskala global. Selain itu, kawasan ini akan difungsikan sebagai laboratorium alam untuk mendukung riset dan inovasi multidisiplin.
Lebih lanjut, Rektor ULM menekankan bahwa program ini akan melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan akademik dan praktis. “Mahasiswa dapat terlibat dalam pengembangan lahan mangrove sebagai lokasi penelitian, budidaya kepiting, hingga pengembangan ekowisata berbasis ekosistem,” jelas Prof. Ahmad Alim Bachri. Melalui keterlibatan tersebut, proyek ini diharapkan menjadi model pengelolaan lingkungan berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Kolaborasi ini juga memperoleh dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Erik Teguh Primiantoro, Staf Ahli Menteri KLHK Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan, menegaskan bahwa pengelolaan lahan basah harus berbasis ilmiah dan tidak hanya bersifat filantropis, melainkan sebagai investasi jangka panjang. “Model kerja sama ini harus dipandang sebagai investasi, bukan sekadar program amal. Laboratorium mangrove ULM dapat menjadi etalase penerapan prinsip People, Planet, Prosperity, Peace, dan Partnership dalam satu ekosistem terpadu,” tegas Erik.
Ia juga menyatakan bahwa sinergi antara ULM dan Freeport ini dapat menjadi rujukan bagi institusi lain dalam mengelola lahan basah secara berkelanjutan melalui pendekatan multidisiplin.
Kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas riset dan pendidikan di ULM, tetapi juga berkontribusi pada pemulihan ekosistem mangrove serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan lahan basah Kalimantan Selatan.







Previous post
