Wisatawan Kapal Pesiar Australia Kunjungi Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak
Banjarmasin, 7 Januari 2025 – Sebanyak 46 wisatawan minat khusus dari berbagai negara, termasuk Australia, Switzerland, dan Amerika Serikat, mengunjungi Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak, Kalimantan Selatan. Para wisatawan yang berlayar dengan Kapal Pesiar Coral Geographer pada Selasa (7/1) ini ingin melihat langsung sanctuary alami bekantan (Nasalis larvatus) yang dikelola oleh Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Foundation.
Rombongan wisatawan disambut oleh Dr. Amalia Rezeki, pendiri SBI Foundation, bersama timnya. Ia mengungkapkan rasa senangnya karena kawasan konservasi yang mereka kelola menarik perhatian wisatawan yang peduli terhadap lingkungan dan satwa liar.
“Mereka sangat tertarik dan mengapresiasi cerita perjuangan kami dalam melestarikan bekantan serta memulihkan ekosistem lahan basah di Pulau Curiak,” ujar Dr. Amalia, yang akrab disapa Amel.
Salah satu wisatawan yang hadir, Oswald Huma, Executive Director dari Signature Papua Tours and Travel, turut mengungkapkan kekagumannya terhadap pengelolaan Pulau Curiak. Menurutnya, upaya SBI dalam menyelamatkan bekantan dan memulihkan ekosistem kawasan ini sangat menarik bagi wisatawan dengan minat khusus.
“Saya sebagai orang yang berkecimpung di dunia perjalanan wisata sangat tertarik untuk menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata minat khusus yang berkelanjutan,” kata Oswald.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Dr. Gary L. Shapiro, seorang peneliti senior orangutan asal Amerika Serikat yang juga menjabat sebagai Presiden dan Co-Founder Orangutan Republic Foundation. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, ia menyatakan rasa senangnya bisa bertemu dengan tim yang memiliki semangat kuat dalam konservasi.
“Saya berharap semakin banyak orang yang datang dan mendukung yayasan ini, serta memiliki visi yang sama dalam pelestarian satwa liar,” ujarnya. Dr. Gary merupakan pakar konservasi orangutan yang telah berkecimpung dalam bidang ini selama lebih dari 50 tahun, termasuk dalam proyek pionir di Taman Nasional Tanjung Puting pada 1978-1981.
Sementara itu, Anne, seorang guest lecturer dari Coral Expedition, juga terkesan dengan kunjungannya ke Stasiun Riset Bekantan meskipun merasa waktu yang tersedia terlalu singkat.
“Saya pikir tempat ini luar biasa. Apa yang telah dilakukan dalam waktu singkat benar-benar menginspirasi,” ungkapnya.
Selama kunjungan, para wisatawan diajak menyusuri trek titian ulin di kawasan restorasi mangrove rambai (Sonneratia caseolaris), mengamati perilaku bekantan, serta melihat satwa liar khas lahan basah lainnya. Mereka juga mengunjungi rumah pembibitan mangrove dan turut serta dalam kegiatan penanaman pohon, sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian ekosistem Pulau Curiak.
Kunjungan ini menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan di Stasiun Riset Bekantan tidak hanya berdampak pada pelestarian bekantan dan ekosistemnya, tetapi juga menarik perhatian dunia internasional sebagai destinasi ekowisata berbasis konservasi.



Next post
