{"id":30998,"date":"2025-04-17T11:23:33","date_gmt":"2025-04-17T03:23:33","guid":{"rendered":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/?p=30998"},"modified":"2025-04-29T09:51:02","modified_gmt":"2025-04-29T01:51:02","slug":"potensi-emas-indonesia-melimpah-tantangan-dan-peluang-jadi-motor-penggerak-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/2025\/04\/17\/potensi-emas-indonesia-melimpah-tantangan-dan-peluang-jadi-motor-penggerak-ekonomi\/","title":{"rendered":"Potensi Emas Indonesia Melimpah, Tantangan dan Peluang Jadi Motor Penggerak Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan emas terbesar di dunia. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menempati peringkat kelima dalam produksi emas global, dengan daerah seperti Grasberg di Papua \u2014 yang terletak di Gunung Ertsberg \u2014 menjadi salah satu sumber utama. Selain Papua, aktivitas pertambangan emas juga tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski potensi emas nasional sangat besar, sejumlah tantangan masih membayangi. Faktor infrastruktur, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pertambangan dinilai belum optimal. Mengutip Dr. Ir. Syahrial Shaddiq di Bpost edisi 15 April 2025. ketidakmampuan memperbaiki ketiga aspek tersebut dapat menghambat upaya Indonesia mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen emas utama dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKita perlu menciptakan ekosistem investasi yang ramah agar investor merasa nyaman menanamkan modalnya,\u201d ujar Syahrial, pengamat pertambangan sekaligus Dosen FEB ULM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi regulasi, Syahrial menyoroti rumitnya proses perizinan yang kerap menghambat pertumbuhan sektor tambang emas. Ia mendorong perbaikan kebijakan dan birokrasi yang lebih efisien untuk mendorong perkembangan sektor ini. Selain itu, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan swasta dalam pengembangan infrastruktur serta peningkatan kompetensi pekerja tambang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKualitas SDM juga harus ditingkatkan melalui pelatihan dan upskilling,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, emas juga menjadi salah satu instrumen investasi yang semakin diminati masyarakat. Dalam satu dekade terakhir, permintaan emas batangan di Indonesia terus meningkat, terutama saat pandemi, ketika masyarakat mencari aset aman (safe haven).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTren kenaikan harga emas dunia membuat masyarakat semakin tertarik berinvestasi di emas,\u201d ungkap Syahrial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harga emas dalam negeri sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kondisi ekonomi global, hingga suku bunga. Syahrial mengingatkan pentingnya masyarakat memahami risiko dan manfaat investasi emas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKetika inflasi naik, harga emas biasanya ikut melonjak. Ini harus menjadi pertimbangan bagi calon investor,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melimpahnya cadangan emas nasional menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk menjadikan sektor pertambangan sebagai tulang punggung ekonomi. Namun, keberhasilan itu bergantung pada tata kelola yang baik, regulasi yang mendukung, dan penguatan kualitas SDM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau ketiga hal ini terpenuhi, sektor emas bisa benar-benar mendorong kesejahteraan masyarakat,\u201d tutup Syahrial.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan emas terbesar di dunia. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menempati peringkat kelima dalam produksi emas global, dengan daerah seperti Grasberg di Papua \u2014 yang terletak di Gunung Ertsberg \u2014 menjadi salah satu sumber &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":31005,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"pmpro_default_level":0},"categories":[319],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30998"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30998"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30998\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31006,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30998\/revisions\/31006"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31005"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30998"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30998"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30998"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}